Andaikan kutahu takdir apa yang dibawa waktu untukku.
Dini
hari, entah kenapa sulit sekali bagiku untuk memejamkan mata meski sedetikpun
aku tak bisa. Entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak. Aku merasa sangat
gelisah, seolah ada suatu hal yang salah dari diriku.
Pesan
masuk, kugeser layar ponselku dan kudapati sebuah pesan yang berhasil
menghilangkan rasa gelisahku. Meskipun hanya sebuah ucapan selamat malam tapi
ini pesan darinya, gadis yang mungkin mengalami hal yang sama sepertiku saat
ini. Gadis yang sangat kurindukan.
Tentang
gadis itu, Arnia. Dia adalah sahabat sekaligus kekasihku. Hubungan kami
terhitung cukup lama, hampir lima tahun berlalu sejak kami kelas X. Kini, jarak
dan kesibukan memisahkanku dengannya. Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk
melanjutkan studi ke Inggris dan aku menetap di negara itu hingga saat ini
lebih tepatnya detik ini juga.
Ku
balas pesan singkat dari Arnia. Meski tak ada balasan lagi darinya, setidaknya
dia masih mengabariku. Kini aku bisa tidur dengan nyenyak.
Aku
kembali tenggelam dalam kesibukanku. Ponselku berdering sesaat sebelum aku
sempat melahap makan siangku, kali ini bukan Arnia yang menelponku tetapi
ibuku. Ibuku memberitahuku bahwa nenek kembali masuk rumah sakit. Tentu ini
cukup mengejutkanku, mengingat nenek adalah orang tua keduaku yang mengasuhku
saat kedua orang tuaku tidak sempat mengurusku dulu.
Di
perjalanan, sempat kuberpikir sebelum aku ke rumah sakit, mungkin aku bisa
menemui Arnia dan memberinya kejutan. Setelah keluar dari bandara, aku langsung
menuju toko bunga. Aku masih ingat kalau Arnia sangat menyukai mawar putih.
Kini
aku berada tepat di depan rumahnya, kuketuk pintunya perlahan. Dari celah pintu
terlihat seorang gadis berambut lurus sebahu, alisnya tebal dan matanya lumayan
besar. Tapi itu bukan Arnia tetapi Ranita – Adik Arnia.
“Kak
Adit!”. Ujarnya kaget.
“Kak
Arnianya ada?”. Tanyaku.
Bukannya
menjawab pertanyaanku, Ranita justru terdiam. Aku kembali bertanya. Tapi Ranita
tetap diam dan tenggelam dalam pikirannya, dia sepertinya ingin bicara namun
dia ragu.
“Are
you okay? Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku? Jika iya, cepatlah! Aku
tak sabar bertemu dengan Arnia”.
Ranita
terlihat menarik nafas begitu dalam. Dan diapun mulai berbicara.
“Kak
Adit lebih baik pulang. Sekarang Kak Adit gak bisa ketemu Kak Arnia lagi”. Ujar
Ranita.
“Tapi
kenapa? Kenapa aku gak bisa ketemu sama Arnia?”.
“Kak
Arnia lagi sibuk, lebih baik Kak Adit pulang”. Dalih Ranita. Ketara jelas bahwa
Ranita saat ini sedang berbohong.
“Bohong!
Beritahu aku alasannya baru aku pulang”.
“Ok,
ok. Hm… Sebenarnya Kak Arnia sudah meninggal tiga bulan yang lalu”.
Saat
itu juga kakiku terasa lemas, aku tak dapat merasakan keberadaan kedua kakiku.
Aku yakin Ranita berbohong, Arnia belum meninggal. Dia masih mengirimkanku
beberapa pesan waktu itu.
“Kamu
bohong. Waktu itu dia masih mengirimkanku pesan singkat”.
“Aku
yang mengirimnya. Kak Arnia yang memintaku. Kak Arnia gak mau sekolah Kak Adit
terganggu jadi Kak Arnia memintaku menyembunyikan semua ini dari Kak Adit
sampai tiba waktu yang tepat”.
Mendengar
apa yang Ranita katakan membuatku benar-benar mati rasa. Saat aku ingin
mengejutkannya kenapa justru aku yang saat ini terkejut. Aku tak habis pikir
kenapa Arnia menyembunyikan semua ini dariku. Tentang penyakitnya dan menyuruh
Ranita menyembunyikan kematiannya juga dariku.
Kini, aku tak dapat
lagi melihat wajahnya dan kini aku hanya bisa memandangi batu nisan yang
bertuliskan namnya. Kuletakkan mawar putih yang kubeli tadi diatas kuburannya. Kematian
Arnia seperti tamparan keras bagiku, aku ingat bagaimana lima bulan yang lalu dia
pernah memintaku untuk kembali tetapi saat itu aku benar-benar sibuk, dengan
berat hati aku tidak mengiyakan permintaannya. Aku saat ini menyesal, teramat
menyesal. Andai saja aku mengetahui takdir lebih awal mungkin saat itu aku akan
menuruti pemintaannya, aku pasti dapat melihat wajahnya meski untuk yang
terakhir kali.
Terima kasih kawan sudah berkunjung dan
menyempatkan diri untuk membaca cerpen diatas. Menghargai untuk Dihargai.
Sumber foto : Pinterest
Sumber foto : Pinterest
