Langsung ke konten utama

Senja

           
Hari mulai petang, angin berhembus memeluk tubuhku. Pohon-pohon kelapa yang berdiri kokoh nampak melambai-lambai pada mentari yang tak lama lagi tenggelam dalam cakrawala.


            Aku terdiam.

            
Kutarik nafasku dalam-dalam. Suara deru ombak yang gemuruh membuatku merasa sangat tenang dan nyaman. Tubuhku terasa begitu ringan, seolah-olah saat ini aku terbebas dari jerat kekejaman dunia. Entah bagaimana alam membuatku terlena sehingga aku lupa bahwa saat ini aku tengah menunggu seseorang.


            Dika.


            Dia satu-satunya lelaki yang mengerti tentangku. Dia juga yang membantuku bangkit dari keterpurukan mental yang sempat aku alami dulu saat kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Tentu aku sangat bahagia dan juga begitu bersyukur memiliki dia sebagai kekasihku.


            Kulihat matahari semakin lama semakin turun, tentu hari juga semakin gelap tapi dia belum juga datang. Aku duduk bersandar pada salah satu pohon dan mulai memainkan butiran-butiran pasir di hadapanku. Hingga akhirnya aku hanyut dalam lamunanku.


            “Far….” Suara itu sontak mengejutkanku.


            “Maaf aku telat,” lanjutnya. Ia menarik kedua sudut bibirnya dan membuat lesung pipitnya ketara jelas. Aku suka sekali cara dia tersenyum padaku.


            “Loh Dik! Wajahmu pucat, kamu sakit?” tanyaku.


            “Ah pucat? Mungkin… karena… langitnya sudah mulai gelap jadi aku kelihatan pucat,” dalihnya.


            “Enggak, wajahmu pucat dan… tanganmu sangat dingin,” ujarku.


            “Kenapa kamu gak bilang kalo kamu lagi sakit? Kamu seharusnya bilang ke aku.”


            Kondisi Dika saat ini membuatku sangat panik. Dika lalu menggenggam tanganku dan memintaku untuk duduk dengan tenang.


            “Kamu gak perlu khawatir, aku baik-baik aja kok. Nah gini, ada sesuatu yang ingin aku bicarain sama kamu,” ujarnya.


            Aku duduk terdiam meski tangannya yang begitu dingin terus mengusik rasa khawatirku.


            “Aku bahagia karena akhirnya aku bisa duduk bersamamu disini, melihat matahari terbenam dalam suasana senja yang menenangkan. Aku masih ingat bagaimana caramu merengek untuk semua ini sementara aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Maaf….” Mendengar semua itu aku merasa bersalah.


            “Untuk apa minta maaf? Justru aku yang minta maaf. Maaf aku sudah memaksamu menuruti ego-ku,” ujarku.


            “Sudah, jangan diperdebatkan lagi, kan aku sudah disini.” Lagi-lagi dia melemparkan senyumannya. Tugasku sekarang hanya duduk diam dan menikmati momen yang sangat aku impikan ini.


            “Far… Saat aku benar-benar pergi, bisakah kamu merelakanku?” entah setan apa yang merasuki diri Dika. Tumben sekali ia bertanya begini.


            “Apa yang harus aku relakan? Kan kamu gak akan pergi kemana-mana,” ujarku berusaha menyikapi pertanyaan Dika dengan santai.


            “Saat aku pergi, aku mau kamu tetap melanjutkan hidupmu. Kamu bisa membuka hati pada laki-laki lain selain aku, carilah dia yang bisa menjagamu, tulus menyayangimu, tulus mencintai….”


            Kututup mulutnya dengan tangan kananku. Aku sudah tidak kuat lagi mendengar kalimat-kalimat itu.


            “Sudah, kamu tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan melanjutkan hidupku bersamamu. Cukup kamu dan itu sudah cukup bagiku. Sudah, aku benci pembicaraan ini,” ujarku ketus.


            Dika lalu menggenggam kedua tanganku. Dia menatapku begitu dalam dan dapat aku rasakan bagaimana kedua tangannya kini terasa semakin dingin, sangat dingin.


            Aku terkejut.


            Aku melihat derai air mata membasahi pipinya, aku rasa nada bicaraku terlalu kasar.


            “Kenapa kamu menangis? Maaf jika aku berkata terlalu kasar.” Dika diam seribu bahasa. Air matanya terus saja mengalir dan aku benar-benar tak habis pikir dia akan menangis, aku tahu betul bahwa Dika bukan lelaki yang mudah sekali menangis. Kecuali, hari dimana Dika kehilangan ibunya, saat itu aku bisa melihat betapa rapuhnya dia.

            
“Jaga dirimu baik-baik.” Dika menggenggam tanganku lebih erat.


“Kenapa kamu bicara seperti ini? Bukankah aku memilikimu, orang yang selalu menjagaku,” ujarku.


            “Farah… Kau tau? Besi harus ditempa agar menjadi kuat dan kokoh. Begitupula hidup, semua masalah yang kau hadapi ini hanyalah cara tuhan untuk membuatmu menjadi sosok yang lebih kuat.” Apa yang Dika katakan benar-benar membuatku bingung. Tidak biasanya ia berkata seperti ini.


            “Kamu kenapa? Hari ini kamu terlihat lain di mataku. Apa karena kamu hari ini lagi sakit jadi kamu bicara yang aneh-aneh. Gimana kalau sekarang kita ke dokter.” Akupun berdiri dan berusaha menyudahi pembicaraan nyeleh ini.


            “Far… Sadar! Buka matamu! Sampai kapan kamu menutupnya? Aku tidak bisa melihatmu terus begini. Jangan jadikan aku hambatan untuk kebahagiaanmu. Aku sudah pergi.”Ujarnya.


            Mendengar itu, diriku seperti terlempar ke masa lalu.


            Aku bisa melihat suasana rumah sakit yang terselubung duka, penuh isak tangis dan air mata. Aku bisa melihat tubuhku yang terbaring koma, penuh luka dan memar. Di luar aku melihat ibuku yang duduk sendirian penuh rasa khawatir. Pandanganku lalu tertuju pada ruangan di ujung lorong. Aku melihat ayah Dika berdiri disana dengan raut yang memilukan.


            Aku memasuki ruangan itu.


            Dan.


            Tubuhku terasa lemas, air mataku pun menghujani kedua pipiku. Kudapati tubuh orang yang sangat aku kasihi sudah tak lagi bernafas dengan wajah yang begitu pucat dan tangan yang sangat dingin.


            Aku jadi teringat kejadian itu.


Hari itu aku mengajak Dika untuk melihat pemandangan matahari terbenam di tepi pantai, sangat romantis begitulah pikirku. Sudah lama aku merencanakannya tapi karena kegiatan Dika yang lumayan padat membuat rencana ini baru terlaksana. Seharusnya ini menjadi momen yang sangat membahagiakan tetapi takdir berkata lain.


Kecelakaan itu merenggut kebahagiaanku seketika.


Aku masih ingat betul bagaimana mobil berwarna hitam itu menghantam motor yang kami tumpangi. Entah apa yang selanjutnya terjadi aku tidak ingat.


Aku melangkah mendekati ranjang dimana raga tak bernyawa itu terbaring. Aku meraih tangannya dan mulai kugenggam erat-erat. Aku hanyut dalam kenanganku bersamanya. 


Dari dalam ruangan aku bisa mendengar riuh kekacauan di luar. Aku mendengar suara ibu. Aku beranjak keluar dan benar apa yang aku dengar, ini suara ibu. Aku menghampirinya, terlihat ibuku sedang bertengkar dengan ayah Dika.


“Ini semua ulah anakmu. Jika dia tidak mengajak Dika pergi mungkin semua ini tidak akan terjadi,” ujar Ayah Dika dengan lantang.


 “Berani-beraninya kamu menyalahkan anakku. Anakku tidak bersalah, anakmu yang kurang hati-hati.” Sungguh aku tidak pernah melihat ibu begitu emosi seperti sekarang.


Pandanganku teralihkan pada sosok lain yang muncul disana. Rupa wajahnya sungguh tak asing di mataku. Lelaki beralis tebal dengan tatapan mata yang begitu tajam itu muncul sebagai penengah perselisihan antara ibu dan ayah Dika. Aku bisa melihat bagimana cara dia mengatasi semua ini.


Dia Galih, teman masa kecilku.


“Semuanya akan baik-baik saja. Tante lebih baik pulang dan istirahat, biar Galih yang menjaga Farah,” ujar Galih.


Galih memang dekat sekali dengan keluargaku, ibuku sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Kami dulu teman yang sangat dekat, kebetulan rumahnya dulu pas bersebelahan dengan rumahku. Namun, semenjak Galih dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke luar kota, aku tak lagi bisa menghubunginya. Hubungan pertemanan kami seolah-olah hilang tertiup angin.


Kini kucoba memasuki ruangan tempat tubuhku dirawat. Disana aku bisa melihat Galih duduk memandangiku di tepi ranjang.


“Apa-apaan ini? Bukankah dulu kamu janji untuk menjaga dirimu baik-baik tanpaku? Kenapa kamu bisa sekacau ini? Lihatlah! Aku sudah kembali, kita bisa bermain bersama lagi. Ayo buka matamu! Aku kembali bukan untuk melihatmu seperti ini,” ujar Galih.


Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar memenuhi ruangan ini.


Aku bisa melihat Galih tergesa-gesa setelah mengangkat telepon yang baru saja ia angkat. Galih berjalan keluar ruangan, langkah kakinya cukup cepat. Sangat mencurigakan, kuputuskan untuk mengikutinya.


Langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah mobil hitam yang begitu familiar bagiku, dan aku sangat terkejut ketika aku melihat bagian depan mobilnya rusak seperti habis menabrak sesuatu bahkan kulihat pelat nomor mobilnya sama dengan mobil yang menabrakku dan Dika. Semua fikiran buruk tiba-tiba memenuhi kepalaku.


“Farah….”


Suara itu menyadarkanku. Bukan Dika, suara itu milik Galih.


Kulihat disekelilingku, tenyata aku hanya bermimpi. Aku masih ditempat yang sama, duduk bersandar pada pohon.


“Sedang apa kamu disini? Ibumu mencarimu,” tanya Galih.


Aku terdiam. Otakku masih terbayang-bayang hal yang baru saja aku lihat di dalam mimpiku.


“Mungkin… tadi itu hanya mimpi. Mana mungkin semua ini ulah Galih,” batinku. Aku berusaha terus untuk meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat dalam mimpi itu tidaklah benar.


“Farah? Kok kamu melamun? Ayo pulang!” ajaknya. Galih lalu menarik tanganku dan membawaku pergi dari tempat ini.


“Naik apa kamu kemari?” tanyaku.


“Hm? Aku kesini naik mobil. Kebetulan mobilku rusak jadi aku bawa mobil lamaku,” ujarnya.


“Oh gitu, aku baru tahu kamu punya mobil lagi.” Akupun terus berjalan mengekorinya.


Langkahku terhenti, jantungku seolah-olah berhenti berdetak.


Mobil itu.

Bukankah itu mobil yang sama seperti dalam mimpiku.


“Tunggu… Apa ini mobilmu?” tanyaku.


“Iya… Waktu itu rusak, karena sekarang udah bener dan kebetulan mobil yang sering aku pakai rusak jadi mobil ini aku pakai lagi,” ujarnya.


“Kamu jahat!” Entah kata-kata itu terlontar otomatis dari mulutku. Tentu ucapanku membuat Galih diam dan bingung.


“Aku tak habis pikir, kamu tega melakukan semua ini. Aku salah apa?” tanpa kurasa air mataku jatuh membasahi pipiku.


“Maksudmu apa? Kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu?” tanya Galih.


“Kamu jangan pura-pura bodoh. Jujur sama aku, kamu kan dalang kecelakaan itu? Kenapa kamu tega sama aku… salahku apa Galih?” perasaan kecewa mulai menusuk dadaku. Aku tidak tahu apa yang akan aku rasakan saat Galih mengiyakan tuduhanku.


“Atas alasan apa kamu menuduhku begitu Far? Mana mungkin aku menyakitimu,”ujarnya.


“Mobil ini.” Galih diam terpaku, aku yakin dia lupa untuk mengganti pelat nomor mobilnya, karena pelat nomornya masih sama. Bisa aku lihat bagaimana raut wajahnya kini berubah.


“Bukankah ini pelat nomor yang sama? Persis dengan yang kuceritakan waktu itu padamu. Bodohnya aku meminta bantuanmu untuk melaporkan pelat nomor ini ke polisi, pasti kamu tidak melapor ke polisi kan? Karena pelakunya itu dirimu sendiri. Tapi kenapa Galih? Kenapa?” Duka yang biasanya mendominasi jiwaku kini berubah amarah.


“Iya… benar! Aku pelakunya. Aku tidak bermaksud mencelakaimu. Aku benci melihatmu dengan laki-laki itu. Aku mencintaimu Far! Kamu tidak pantas bersanding dengannya. Kamu hanya untukku.”


Plak…

Tamparan hangat mendarat di pipi kirinya.


“Kamu jahat! Ini yang kamu namakan cinta? Cintamu sudah melukaiku. Aku tak habis pikir orang yang selama ini aku anggap malaikat justru dialah iblisnya. Aku menyesal sudah mempercayaimu. Kamu egois, aku benci kamu.”


Kenyataan ini terlalu pahit, aku memutuskan untuk pergi dan aku bersumpah untuk tidak lagi menemui orang ini. Kuhiraukan pekikan suaranya dan terus melangkah menjauh. Hingga dia berhasil meraih tanganku. Wajahnya mendekat dan mulai membisikkan sesuatu di telingaku.


“Kamu benar! Aku sama seperti iblis, aku jahat jadi…jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain juga tidak bisa.” Dapat aku rasakan sebuah benda runcing menembus perutku. Perih.


“Kini kamu bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kamu cintai itu,” bisiknya. Lagi-lagi dia menusukku dengan pisau yang digenggamnya. Tubuhku ambruk.


Aku bisa merasakan bagaimana cairan kental berwarna merah itu mengalir keluar dari tubuhku. Rasanya begitu sakit dan itu membuatku sulit untuk berteriak minta tolong. Entah setan apa yang mengendalikan pikiran Galih, dia berjalan menjauh dan dengan tega ia meninggalkanku dalam keadaan begini.


Tubuhku lemas, mataku terasa berat dan semakin terasa berat.

“Farah… akhirnya kita bisa bersama kembali. Ayo! Raih tanganku.” Aku bisa melihat Dika, dia tersenyum. Kucoba meraih tangannya namun pandanganku tiba-tiba menggelap dan kini aku tidak dapat merasakan tubuhku. Semuanya mati rasa. Aku mati.


Aku tidak pernah berpikir bahwa takdirku akan seburuk ini, aku tak habis pikir jika nyawaku berakhir di tangan orang gila seperti Galih. Aku harap Galih tidak menyakiti ibuku, semoga ibu diberi ketabahan jika suatu saat kebenaran yang sesungguhnya terungkap.







Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk membaca cerpenku. Aku harap masukan dari kalian agar cerita selanjutnya bisa lebih baik.
Selamat bertemu di cerita selanjutnya. Menghargai untuk dihargai.

Sumber foto : Pinterest

Postingan populer dari blog ini

Andaikan Saja

Andaikan kutahu takdir apa yang dibawa waktu untukku.           Dini hari, entah kenapa sulit sekali bagiku untuk memejamkan mata meski sedetikpun aku tak bisa. Entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak. Aku merasa sangat gelisah, seolah ada suatu hal yang salah dari diriku.           Pesan masuk, kugeser layar ponselku dan kudapati sebuah pesan yang berhasil menghilangkan rasa gelisahku. Meskipun hanya sebuah ucapan selamat malam tapi ini pesan darinya, gadis yang mungkin mengalami hal yang sama sepertiku saat ini. Gadis yang sangat kurindukan.           Tentang gadis itu, Arnia. Dia adalah sahabat sekaligus kekasihku. Hubungan kami terhitung cukup lama, hampir lima tahun berlalu sejak kami kelas X. Kini, jarak dan kesibukan memisahkanku dengannya. Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan studi ke Inggris dan aku menetap...