Hari mulai petang,
angin berhembus memeluk tubuhku. Pohon-pohon kelapa yang berdiri kokoh nampak
melambai-lambai pada mentari yang tak lama lagi tenggelam dalam cakrawala.
Aku
terdiam.
Kutarik nafasku
dalam-dalam. Suara deru ombak yang gemuruh membuatku merasa sangat tenang dan
nyaman. Tubuhku terasa begitu ringan, seolah-olah saat ini aku terbebas dari
jerat kekejaman dunia. Entah bagaimana alam membuatku terlena sehingga aku lupa
bahwa saat ini aku tengah menunggu seseorang.
Dika.
Dia
satu-satunya lelaki yang mengerti tentangku. Dia juga yang membantuku bangkit
dari keterpurukan mental yang sempat aku alami dulu saat kedua orang tuaku
memutuskan untuk berpisah. Tentu aku sangat bahagia dan juga begitu bersyukur
memiliki dia sebagai kekasihku.
Kulihat
matahari semakin lama semakin turun, tentu hari juga semakin gelap tapi dia
belum juga datang. Aku duduk bersandar pada salah satu pohon dan mulai memainkan
butiran-butiran pasir di hadapanku. Hingga akhirnya aku hanyut dalam lamunanku.
“Far….”
Suara itu sontak mengejutkanku.
“Maaf
aku telat,” lanjutnya. Ia menarik kedua sudut bibirnya dan membuat lesung
pipitnya ketara jelas. Aku suka sekali cara dia tersenyum padaku.
“Loh
Dik! Wajahmu pucat, kamu sakit?” tanyaku.
“Ah
pucat? Mungkin… karena… langitnya sudah mulai gelap jadi aku kelihatan pucat,”
dalihnya.
“Enggak,
wajahmu pucat dan… tanganmu sangat dingin,” ujarku.
“Kenapa
kamu gak bilang kalo kamu lagi sakit? Kamu seharusnya bilang ke aku.”
Kondisi
Dika saat ini membuatku sangat panik.
Dika lalu menggenggam tanganku dan memintaku untuk duduk dengan tenang.
“Kamu
gak perlu khawatir, aku baik-baik aja kok. Nah gini, ada sesuatu yang ingin aku
bicarain sama kamu,” ujarnya.
Aku
duduk terdiam meski tangannya yang begitu dingin terus mengusik rasa khawatirku.
“Aku
bahagia karena akhirnya aku bisa duduk bersamamu disini, melihat matahari
terbenam dalam suasana senja yang menenangkan. Aku masih ingat bagaimana caramu
merengek untuk semua ini sementara aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri.
Maaf….” Mendengar semua itu aku merasa bersalah.
“Untuk
apa minta maaf? Justru aku yang minta maaf. Maaf aku sudah memaksamu menuruti
ego-ku,” ujarku.
“Sudah,
jangan diperdebatkan lagi, kan aku sudah disini.” Lagi-lagi dia melemparkan
senyumannya. Tugasku sekarang hanya duduk diam dan menikmati momen yang sangat
aku impikan ini.
“Far…
Saat aku benar-benar pergi, bisakah kamu merelakanku?” entah setan apa yang
merasuki diri Dika. Tumben sekali ia bertanya begini.
“Apa
yang harus aku relakan? Kan kamu gak akan pergi kemana-mana,” ujarku berusaha
menyikapi pertanyaan Dika dengan santai.
“Saat
aku pergi, aku mau kamu tetap melanjutkan hidupmu. Kamu bisa membuka hati pada
laki-laki lain selain aku, carilah dia yang bisa menjagamu, tulus menyayangimu,
tulus mencintai….”
Kututup
mulutnya dengan tangan kananku. Aku sudah tidak kuat lagi mendengar
kalimat-kalimat itu.
“Sudah,
kamu tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan melanjutkan hidupku bersamamu.
Cukup kamu dan itu sudah cukup bagiku. Sudah, aku benci pembicaraan ini,”
ujarku ketus.
Dika
lalu menggenggam kedua tanganku. Dia menatapku begitu dalam dan dapat aku
rasakan bagaimana kedua tangannya kini terasa semakin dingin, sangat dingin.
Aku
terkejut.
Aku
melihat derai air mata membasahi pipinya, aku rasa nada bicaraku terlalu kasar.
“Kenapa
kamu menangis? Maaf jika aku berkata terlalu kasar.”
Dika diam seribu bahasa. Air matanya terus saja mengalir dan aku benar-benar
tak habis pikir dia akan menangis, aku tahu betul bahwa Dika bukan lelaki yang
mudah sekali menangis. Kecuali, hari dimana Dika kehilangan ibunya, saat itu
aku bisa melihat betapa rapuhnya dia.
“Jaga dirimu
baik-baik.” Dika menggenggam tanganku lebih erat.
“Kenapa kamu bicara
seperti ini? Bukankah aku memilikimu, orang yang selalu menjagaku,” ujarku.
“Farah…
Kau tau? Besi harus ditempa agar menjadi kuat dan kokoh. Begitupula hidup,
semua masalah yang kau hadapi ini hanyalah cara tuhan untuk membuatmu menjadi
sosok yang lebih kuat.” Apa yang Dika katakan benar-benar membuatku bingung.
Tidak biasanya ia berkata seperti ini.
“Kamu
kenapa? Hari ini kamu terlihat lain di mataku. Apa karena kamu hari ini lagi
sakit jadi kamu bicara yang aneh-aneh. Gimana kalau sekarang kita ke dokter.”
Akupun berdiri dan berusaha menyudahi pembicaraan nyeleh ini.
“Far…
Sadar! Buka matamu! Sampai kapan kamu menutupnya? Aku tidak bisa melihatmu
terus begini. Jangan jadikan aku hambatan untuk kebahagiaanmu. Aku sudah
pergi.”Ujarnya.
Mendengar
itu, diriku seperti terlempar ke masa lalu.
Aku
bisa melihat suasana rumah sakit yang terselubung duka, penuh isak tangis dan
air mata. Aku bisa melihat tubuhku yang terbaring koma, penuh luka dan memar.
Di luar aku melihat ibuku yang duduk sendirian penuh rasa khawatir. Pandanganku
lalu tertuju pada ruangan di ujung lorong. Aku melihat ayah Dika berdiri disana
dengan raut yang memilukan.
Aku
memasuki ruangan itu.
Dan.
Tubuhku
terasa lemas, air mataku pun menghujani kedua pipiku. Kudapati tubuh orang yang
sangat aku kasihi sudah tak lagi bernafas dengan wajah yang begitu pucat dan
tangan yang sangat dingin.
Aku
jadi teringat kejadian itu.
Hari itu aku
mengajak Dika untuk melihat pemandangan matahari terbenam di tepi pantai,
sangat romantis begitulah pikirku. Sudah lama aku merencanakannya tapi karena
kegiatan Dika yang lumayan padat membuat rencana ini baru terlaksana.
Seharusnya ini menjadi momen yang sangat membahagiakan tetapi takdir berkata
lain.
Kecelakaan itu
merenggut kebahagiaanku seketika.
Aku masih ingat
betul bagaimana mobil berwarna hitam itu menghantam motor yang kami tumpangi.
Entah apa yang selanjutnya terjadi aku tidak ingat.
Aku melangkah
mendekati ranjang dimana raga tak bernyawa itu terbaring. Aku meraih tangannya
dan mulai kugenggam erat-erat. Aku hanyut dalam kenanganku bersamanya.
Dari dalam ruangan
aku bisa mendengar riuh kekacauan di luar. Aku mendengar suara ibu. Aku
beranjak keluar dan benar apa yang aku dengar, ini suara ibu. Aku
menghampirinya, terlihat ibuku sedang bertengkar dengan ayah Dika.
“Ini semua ulah
anakmu. Jika dia tidak mengajak Dika pergi mungkin semua ini tidak akan
terjadi,” ujar Ayah Dika dengan lantang.
“Berani-beraninya
kamu menyalahkan anakku. Anakku tidak bersalah, anakmu yang kurang hati-hati.”
Sungguh aku tidak pernah melihat ibu begitu emosi seperti sekarang.
Pandanganku
teralihkan pada sosok lain yang muncul disana. Rupa wajahnya sungguh tak asing
di mataku. Lelaki beralis tebal dengan tatapan mata yang begitu tajam itu
muncul sebagai penengah perselisihan antara ibu dan ayah Dika. Aku bisa melihat
bagimana cara dia mengatasi semua ini.
Dia Galih, teman
masa kecilku.
“Semuanya akan
baik-baik saja. Tante lebih baik pulang dan istirahat, biar Galih yang menjaga
Farah,” ujar Galih.
Galih memang dekat
sekali dengan keluargaku, ibuku sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
Kami dulu teman yang sangat dekat, kebetulan rumahnya dulu pas bersebelahan
dengan rumahku. Namun, semenjak Galih dan keluarganya memutuskan untuk pindah
ke luar kota, aku tak lagi bisa menghubunginya. Hubungan pertemanan kami seolah-olah
hilang tertiup angin.
Kini kucoba
memasuki ruangan tempat tubuhku dirawat. Disana aku bisa melihat Galih duduk
memandangiku di tepi ranjang.
“Apa-apaan ini?
Bukankah dulu kamu janji untuk menjaga dirimu baik-baik tanpaku? Kenapa kamu
bisa sekacau ini? Lihatlah! Aku sudah kembali, kita bisa bermain bersama lagi.
Ayo buka matamu! Aku kembali bukan untuk melihatmu seperti ini,” ujar Galih.
Tiba-tiba suara
dering ponsel terdengar memenuhi ruangan ini.
Aku bisa melihat
Galih tergesa-gesa setelah mengangkat telepon yang baru saja ia angkat. Galih
berjalan keluar ruangan, langkah kakinya cukup cepat. Sangat mencurigakan,
kuputuskan untuk mengikutinya.
Langkah kakinya
berhenti tepat di depan sebuah mobil hitam yang begitu familiar bagiku, dan aku
sangat terkejut ketika aku melihat bagian depan mobilnya rusak seperti habis
menabrak sesuatu bahkan kulihat pelat nomor mobilnya sama dengan mobil yang
menabrakku dan Dika. Semua fikiran buruk tiba-tiba memenuhi kepalaku.
“Farah….”
Suara itu
menyadarkanku. Bukan Dika, suara itu milik Galih.
Kulihat
disekelilingku, tenyata aku hanya bermimpi. Aku masih ditempat yang sama, duduk
bersandar pada pohon.
“Sedang apa kamu
disini? Ibumu mencarimu,” tanya Galih.
Aku terdiam. Otakku
masih terbayang-bayang hal yang baru saja aku lihat di dalam mimpiku.
“Mungkin… tadi itu
hanya mimpi. Mana mungkin semua ini ulah Galih,” batinku. Aku berusaha terus
untuk meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat dalam mimpi itu tidaklah benar.
“Farah? Kok kamu
melamun? Ayo pulang!” ajaknya. Galih lalu menarik tanganku dan membawaku pergi
dari tempat ini.
“Naik apa kamu
kemari?” tanyaku.
“Hm? Aku kesini
naik mobil. Kebetulan mobilku rusak jadi aku bawa mobil lamaku,” ujarnya.
“Oh gitu, aku baru
tahu kamu punya mobil lagi.” Akupun terus berjalan mengekorinya.
Langkahku terhenti,
jantungku seolah-olah berhenti berdetak.
Mobil itu.
Bukankah itu mobil
yang sama seperti dalam mimpiku.
“Tunggu… Apa ini
mobilmu?” tanyaku.
“Iya… Waktu itu
rusak, karena sekarang udah bener dan kebetulan mobil yang sering aku pakai
rusak jadi mobil ini aku pakai lagi,” ujarnya.
“Kamu jahat!” Entah
kata-kata itu terlontar otomatis dari mulutku. Tentu ucapanku membuat Galih
diam dan bingung.
“Aku tak habis
pikir, kamu tega melakukan semua ini. Aku salah apa?” tanpa kurasa air mataku
jatuh membasahi pipiku.
“Maksudmu apa?
Kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu?” tanya Galih.
“Kamu jangan
pura-pura bodoh. Jujur sama aku, kamu kan dalang kecelakaan itu? Kenapa kamu
tega sama aku… salahku apa Galih?” perasaan kecewa mulai menusuk dadaku. Aku
tidak tahu apa yang akan aku rasakan saat Galih mengiyakan tuduhanku.
“Atas alasan apa
kamu menuduhku begitu Far? Mana mungkin aku menyakitimu,”ujarnya.
“Mobil ini.” Galih
diam terpaku, aku yakin dia lupa untuk mengganti pelat nomor mobilnya, karena
pelat nomornya masih sama. Bisa aku lihat bagaimana raut wajahnya kini berubah.
“Bukankah ini pelat
nomor yang sama? Persis dengan yang kuceritakan waktu itu padamu. Bodohnya aku
meminta bantuanmu untuk melaporkan pelat nomor ini ke polisi, pasti kamu tidak
melapor ke polisi kan? Karena pelakunya itu dirimu sendiri. Tapi kenapa Galih?
Kenapa?” Duka yang biasanya mendominasi jiwaku kini berubah amarah.
“Iya… benar! Aku
pelakunya. Aku tidak bermaksud mencelakaimu. Aku benci melihatmu dengan
laki-laki itu. Aku mencintaimu Far! Kamu tidak pantas bersanding dengannya.
Kamu hanya untukku.”
Plak…
Tamparan hangat
mendarat di pipi kirinya.
“Kamu jahat! Ini
yang kamu namakan cinta? Cintamu sudah melukaiku. Aku tak habis pikir orang
yang selama ini aku anggap malaikat justru dialah iblisnya. Aku menyesal sudah
mempercayaimu. Kamu egois, aku benci kamu.”
Kenyataan ini
terlalu pahit, aku memutuskan untuk pergi dan aku bersumpah untuk tidak lagi
menemui orang ini. Kuhiraukan pekikan suaranya dan terus melangkah menjauh.
Hingga dia berhasil meraih tanganku. Wajahnya mendekat dan mulai membisikkan
sesuatu di telingaku.
“Kamu benar! Aku
sama seperti iblis, aku jahat jadi…jika aku tidak bisa memilikimu maka orang
lain juga tidak bisa.” Dapat aku rasakan sebuah benda runcing menembus perutku.
Perih.
“Kini kamu bisa
bertemu dengan lelaki yang sangat kamu cintai itu,” bisiknya. Lagi-lagi dia
menusukku dengan pisau yang digenggamnya. Tubuhku ambruk.
Aku bisa merasakan
bagaimana cairan kental berwarna merah itu mengalir keluar dari tubuhku.
Rasanya begitu sakit dan itu membuatku sulit untuk berteriak minta tolong.
Entah setan apa yang mengendalikan pikiran Galih, dia berjalan menjauh dan
dengan tega ia meninggalkanku dalam keadaan begini.
Tubuhku lemas,
mataku terasa berat dan semakin terasa berat.
“Farah… akhirnya
kita bisa bersama kembali. Ayo! Raih tanganku.” Aku bisa melihat Dika, dia
tersenyum. Kucoba meraih tangannya namun pandanganku tiba-tiba menggelap dan
kini aku tidak dapat merasakan tubuhku. Semuanya mati rasa. Aku mati.
Aku tidak pernah
berpikir bahwa takdirku akan seburuk ini, aku tak habis pikir jika nyawaku
berakhir di tangan orang gila seperti Galih. Aku harap Galih tidak menyakiti
ibuku, semoga ibu diberi ketabahan jika suatu saat kebenaran yang sesungguhnya
terungkap.
Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk membaca
cerpenku. Aku harap masukan dari kalian agar cerita selanjutnya bisa lebih
baik.
Selamat bertemu di cerita selanjutnya. Menghargai untuk dihargai.
Sumber foto : Pinterest
